Minggu, 11 Oktober 2020

Mengapa Siswa Indonesia Menghindari Matematika?

coming soon

Tingkah Unik Wanita

Hi guys, how are you today? Semoga tetap sehat dan berbahagia. Sudah lama sekali ya, aku vakum dari dunia maya wkwk. Okay, kali ini aku tidak akan berbagi topik dengan kualitas kalimat yang bagus ataupun brainstorming banget. Betul-betul sharing aja ini. Seperti yang kita tahu, aku sering ngebahas wanita dalam jurnal yang aku tulis di sini, tapi pernah kepikiran gak sih, why should I care about that? Seolah-olah gak ada topik lain yang seru untuk diperbincangkan.

Well, ada beberapa alasan untuk itu. Salah satu hal yang paling mendorong adalah kegagalanku memahami beberapa pemikiran dan perilaku wanita—tentu saja, wanita yang aku kenal. Penting bagiku berbagi opini ini karena mau tidak mau, dalam kehidupan sehari-hari, kita berinteraksi dengan banyak wanita. Bahkan, sebagian yang membaca tulisan ini juga wanita. Mohon baca sampe selese biar gak salah paham. Semoga kalian bisa klarifikasi ya, apakah kalian atau teman-teman wanita kalian juga memiliki hal yang sama seperti yang aku tanyakan di sini, haha.

1)   Ingin terlihat kuat

Ayo ngaku, siapa yang sering bilang “aku gak apa-apa” padahal lagi bad mood? Kita bisa bilang jika ini adalah hal yang sepele, tapi dalam situasi dan hubungan tertentu, pernyataan ini bisa berakibat fatal, lho. Ini bisa membuat lawan bicara berada di posisi serba salah. Hah, maksudnya?

Langsung contoh aja ya, biar gak njelimet. Misalnya kamu lagi sakit, lalu orang tua notice kalo kamu butuh istirahat, karena kamu gak mau bikin ortu khawatir, kamu bilang aja “aku gak apa-apa kok, mah.” Secara psikologis kamu mungkin mikir kamu memang gak apa-apa, tapi fisik kamu belum tentu sekuat apa yang kamu pikirkan. Bahkan jika kamu makin sakit, ortu kamu bisa aja lho merasa kurang perhatian sama kamu.

Contoh lain, ketika kamu merasa kesal dan kecewa sama teman atau pacar kamu. Kamu perlahan-lahan diemin mereka dan mulai menutup diri. Ketika mereka konfirmasi kamu kenapa. Kamu bilang, “aku gak apa-apa, kok.” Pengalaman pribadi sih, hal ini bikin aku kikuk. Aku bingung harus ngerespons apa. Aku seperti ngelihat teman aku sedang membohongi dirinya sendiri. Jelas sekali kami sebagai teman tahu betul kebiasaan dia, berubah dikit aja, aku (dan teman-teman yang lain) akan nyadar kalo dia sedang menghadapi masalah/merasakan euforia tertentu sehingga butuh waktu untuk sendiri. Gak apa-apa sih kalo mau bilang, “aku gak apa-apa”, tapi kalo gak direspons, jangan sampai berkesimpulan bahwa orang lain “tidak peka”. Pada hubungan yang lebih intim, misalnya pacaran atau pernikahan. Ketidakjujuran seperti ini bisa saja berujung pertengkaran dan perpisahan, lho.

2)   Cuek tapi gampang baper

Ayo ngaku, siapa yang suka bilang “apa sih? biasa aja kali” padahal excited banget kalo dipuji? Ini sih, mudah ditebak para cowok ya, karena bahasa tubuh wanita yang emosinya sedang melting itu selalu bertentangan dengan apa yang ia katakan. Biasa aja tapi pipinya memerah. Biasa aja tapi salting. Biasa aja tapi kok gugup?

Mungkin diantara kalian ada yang menyangkal, gak kok, buktinya aku suka jujur kalo aku lagi seneng. Misalnya saat aktor drama korea beraksi dengan tingkah romantisnya. Auto dijadiin snap instagram deh, gak lupa pake emot cium dan lope. Ya ya ya, memang betul. Wanita akan jujur kalo lagi sendiri. Di depan orang yang memujinya, bisa aja bilang biasa aja. Setelah mereka gak ada, baru deh jingkrak-jingkrak. “Ya Allah, dia romantis banget sih. Perhatian sekali. Uhh senangnya!”

3)   Si ramah yang mudah marah

Aku ingetin lagi deh, ini bukan generalisasi ya, pernyataan ini merujuk pada beberapa wanita yang aku kenal. Iya, mereka super baik. Rajin belajar, gemar membantu, ramah pula. Alangkah aku tercengang ketika mendengar cerita-cerita pertengkaran mereka dengan orang-orang terdekat ataupun orang yang baru dikenal. Konyol sekali. Apanya? Kelakuan teman-temanku itu, tentu saja. Baru aku sadar, tingginya IQ seseorang tidak terlalu berpengaruh pada tingginya kecerdasan interpersonal. Huft, ketika aku dengar dan baca jejak pertengkaran mereka, uhh, rasanya terdengar suara lumba-lumba di kartun Spongebob. Kata-katanya relatif jauh lebih sadis dan pedas dari penolakan gebetan. Ok, mohon sebelum menikah—aku sarankan kepada para pria—untuk rajin melakukan olahraga yang bisa meningkatkan kesehatan jantung, ya.

Mengapa aku bilang mudah marah? Ini aku bandingkan dengan kasus kemarahan kenalanku (yang cowok). Jadi ya, sejauh ini, aku lihat wanita relatif lebih “temperamental” dibandingkan pria. FYI, temperamen itu bukan hanya soal cepat lambatnya seseorang merasa marah, tapi juga emosi lain seperti sedih, putus asa, tenang, dan sejenisnya.

Kalo masih belum percaya, perhatikan saja ibu-ibu ‘kompleks’. Di hari libur, mereka terlihat menikmati quality time bersama anak-anaknya. Di hari sekolah daring, taraaa… bengis sekali, kukira.

4)   Jenius yang tak mengerti definisi langsing

Aku tanya, berapa banyak teman wanita kalian yang jago matematika? Jago ngafal? Multilingual? Multitalenta? Beladiri? Semua itu membutuhkan latihan dan kecerdasan. Entah  itu akurasi motorik, sensorik, memori. Uniknya, wanita kehilangan objektivitas ketika ditanya mengenai dirinya sendiri. Jawabannya cenderung bermuatan emosi. Coba aja bilang, “pipi kamu chubby ya.” Aku jamin deh minimal ada 1 orang yang misuh-misuh. “Hah? Masa? Padahal aku udah diet seminggu blab la bla kok masih gendut sih.”

Kata-kata seperti tembam, gak kurus, dan berisi, bagi sebagian wanita artinya sama dengan gemuk dan gendut. Lalu diasosiasikan dengan kata jelek. Dugaanku sih, ini terjadi karena wanita sangat memperhatikan penampilan. Beda sama laki-laki, mereka cenderung lebih mengenal apakah dirinya kurus, langsing, gemuk, atau obesitas.

5)  

 

 

 

 

Hayooo, nungguin nomor 5 ya? Harap bersabar, penulis akan mempostingnya dalam waktu dekat.

 

Nah ini dia, satu hal yang sangat tidak disukai wanita, yaitu ketidakpastian. Sebetulnya ini genderless ya, pria juga gak suka. Tapi yang unik dari fenomena ini adalah, sebagian wanita cenderung malu untuk berkata rindu atau bertanya “kapan kita bertemu?” Kadang juga sungkan untuk mengatakan bahwa ia keberatan untuk menunggu dan segera membutuhkan kejelasan. Eitss, malah dibahas sekarang ‘kan jadinya. Oke skip dulu ya. Sampai jumpa esok lusa. Semoga menghibur, ya.