Hi guys, how are you today?
Semoga tetap sehat dan berbahagia. Sudah lama sekali ya, aku vakum dari dunia maya
wkwk. Okay, kali ini aku tidak akan
berbagi topik dengan kualitas kalimat yang bagus ataupun brainstorming banget. Betul-betul sharing aja ini. Seperti yang kita tahu, aku sering ngebahas wanita
dalam jurnal yang aku tulis di sini, tapi pernah kepikiran gak sih, why should I care about that? Seolah-olah
gak ada topik lain yang seru untuk diperbincangkan.
Well,
ada beberapa alasan untuk itu. Salah satu hal yang paling mendorong adalah
kegagalanku memahami beberapa pemikiran dan perilaku wanita—tentu saja, wanita
yang aku kenal. Penting bagiku berbagi opini ini karena mau tidak mau, dalam
kehidupan sehari-hari, kita berinteraksi dengan banyak wanita. Bahkan, sebagian
yang membaca tulisan ini juga wanita. Mohon baca sampe selese biar gak salah
paham. Semoga kalian bisa klarifikasi ya, apakah kalian atau teman-teman wanita
kalian juga memiliki hal yang sama seperti yang aku tanyakan di sini, haha.
1)
Ingin terlihat kuat
Ayo ngaku, siapa yang
sering bilang “aku gak apa-apa” padahal lagi bad mood? Kita bisa bilang jika ini adalah hal yang sepele, tapi
dalam situasi dan hubungan tertentu, pernyataan ini bisa berakibat fatal, lho.
Ini bisa membuat lawan bicara berada di posisi serba salah. Hah, maksudnya?
Langsung contoh aja ya,
biar gak njelimet. Misalnya kamu lagi
sakit, lalu orang tua notice kalo
kamu butuh istirahat, karena kamu gak mau bikin ortu khawatir, kamu bilang aja
“aku gak apa-apa kok, mah.” Secara psikologis kamu mungkin mikir kamu memang
gak apa-apa, tapi fisik kamu belum tentu sekuat apa yang kamu pikirkan. Bahkan
jika kamu makin sakit, ortu kamu bisa aja lho merasa kurang perhatian sama
kamu.
Contoh lain, ketika kamu
merasa kesal dan kecewa sama teman atau pacar kamu. Kamu perlahan-lahan diemin
mereka dan mulai menutup diri. Ketika mereka konfirmasi kamu kenapa. Kamu
bilang, “aku gak apa-apa, kok.” Pengalaman pribadi sih, hal ini bikin aku
kikuk. Aku bingung harus ngerespons apa. Aku seperti ngelihat teman aku sedang
membohongi dirinya sendiri. Jelas sekali kami sebagai teman tahu betul
kebiasaan dia, berubah dikit aja, aku (dan teman-teman yang lain) akan nyadar
kalo dia sedang menghadapi masalah/merasakan euforia tertentu sehingga butuh
waktu untuk sendiri. Gak apa-apa sih kalo mau bilang, “aku gak apa-apa”, tapi
kalo gak direspons, jangan sampai berkesimpulan bahwa orang lain “tidak peka”.
Pada hubungan yang lebih intim, misalnya pacaran atau pernikahan.
Ketidakjujuran seperti ini bisa saja berujung pertengkaran dan perpisahan, lho.
2)
Cuek tapi gampang baper
Ayo ngaku, siapa yang
suka bilang “apa sih? biasa aja kali” padahal excited banget kalo dipuji? Ini sih, mudah ditebak para cowok ya,
karena bahasa tubuh wanita yang emosinya sedang melting itu selalu bertentangan dengan apa yang ia katakan. Biasa
aja tapi pipinya memerah. Biasa aja tapi salting. Biasa aja tapi kok gugup?
Mungkin diantara kalian
ada yang menyangkal, gak kok, buktinya aku suka jujur kalo aku lagi seneng.
Misalnya saat aktor drama korea beraksi dengan tingkah romantisnya. Auto
dijadiin snap instagram deh, gak lupa pake emot cium dan lope. Ya ya ya, memang
betul. Wanita akan jujur kalo lagi sendiri. Di depan orang yang memujinya, bisa
aja bilang biasa aja. Setelah mereka gak ada, baru deh jingkrak-jingkrak. “Ya
Allah, dia romantis banget sih. Perhatian sekali. Uhh senangnya!”
3)
Si ramah yang mudah marah
Aku ingetin lagi deh,
ini bukan generalisasi ya, pernyataan ini merujuk pada beberapa wanita yang aku
kenal. Iya, mereka super baik. Rajin belajar, gemar membantu, ramah pula. Alangkah
aku tercengang ketika mendengar cerita-cerita pertengkaran mereka dengan
orang-orang terdekat ataupun orang yang baru dikenal. Konyol sekali. Apanya?
Kelakuan teman-temanku itu, tentu saja. Baru aku sadar, tingginya IQ seseorang
tidak terlalu berpengaruh pada tingginya kecerdasan interpersonal. Huft, ketika
aku dengar dan baca jejak pertengkaran mereka, uhh, rasanya terdengar suara
lumba-lumba di kartun Spongebob. Kata-katanya relatif jauh lebih sadis dan
pedas dari penolakan gebetan. Ok, mohon sebelum menikah—aku sarankan kepada
para pria—untuk rajin melakukan olahraga yang bisa meningkatkan kesehatan
jantung, ya.
Mengapa aku bilang mudah
marah? Ini aku bandingkan dengan kasus kemarahan kenalanku (yang cowok). Jadi
ya, sejauh ini, aku lihat wanita relatif lebih “temperamental” dibandingkan
pria. FYI, temperamen itu bukan hanya
soal cepat lambatnya seseorang merasa marah, tapi juga emosi lain seperti
sedih, putus asa, tenang, dan sejenisnya.
Kalo masih belum
percaya, perhatikan saja ibu-ibu ‘kompleks’. Di hari libur, mereka terlihat
menikmati quality time bersama
anak-anaknya. Di hari sekolah daring, taraaa… bengis sekali, kukira.
4)
Jenius yang tak mengerti definisi
langsing
Aku tanya, berapa banyak
teman wanita kalian yang jago matematika? Jago ngafal? Multilingual?
Multitalenta? Beladiri? Semua itu membutuhkan latihan dan kecerdasan. Entah itu akurasi motorik, sensorik, memori. Uniknya,
wanita kehilangan objektivitas ketika ditanya mengenai dirinya sendiri.
Jawabannya cenderung bermuatan emosi. Coba aja bilang, “pipi kamu chubby ya.” Aku jamin deh minimal ada 1
orang yang misuh-misuh. “Hah? Masa? Padahal aku udah diet seminggu blab la bla
kok masih gendut sih.”
Kata-kata seperti tembam,
gak kurus, dan berisi, bagi sebagian wanita artinya sama dengan gemuk dan
gendut. Lalu diasosiasikan dengan kata jelek. Dugaanku sih, ini terjadi karena
wanita sangat memperhatikan penampilan. Beda sama laki-laki, mereka cenderung
lebih mengenal apakah dirinya kurus, langsing, gemuk, atau obesitas.
5)
Hayooo,
nungguin nomor 5 ya? Harap bersabar, penulis akan mempostingnya dalam waktu
dekat.
Nah ini dia, satu hal yang sangat tidak disukai wanita,
yaitu ketidakpastian. Sebetulnya ini genderless
ya, pria juga gak suka. Tapi yang
unik dari fenomena ini adalah, sebagian wanita cenderung malu untuk berkata
rindu atau bertanya “kapan kita bertemu?” Kadang juga sungkan untuk mengatakan
bahwa ia keberatan untuk menunggu dan segera membutuhkan kejelasan. Eitss,
malah dibahas sekarang ‘kan jadinya. Oke skip dulu ya. Sampai jumpa esok lusa.
Semoga menghibur, ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar